Monday, March 18, 2013

Maulana Jalal Al-Din Rumi


Riwayat Hidup Maulana Jalal Al-Din Rumi
by: Zainal Abidin
Jalal Al-Din Muhammad Ar-Rumi dilahirkan pada 6 Rabi’ul Awwal tahun 604 Hijriyyah (30 September 1207) di Balkh, salah satu wilayah Afganistan. Ayahnya bernama Muhammad bergelar Baha’ Al-Din Walad, tokoh ulama dan guru besar di negerinya di masa itu. Menurut catatan sejarah, Maulana Jalal Al-Din Rumi masih keturunan dari Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq R.A dari pihak ayahnya dan Imam Ali bin Abu Thalib kwh dari pihak ibunya.
Pada tahun 630 Hijriyyah, Jalal Al-Din Rumi pergi ke negeri Syams untuk melanjutkan pendidikan. Para guru di sekolahnya, bahkan para ulama di negeri itu secara jujur mengakui kecerdasan dan kepandaian Jalal Al-Din. Disebabkan ia memiliki wawasan yang luas, khususnya dalam bidang ilmu agama Islam. Ia sempat juga bermukim di kota Damaskus, di sanalah ia berjumpa dengan beberapa tokoh sufi salah satunya adalah Syeikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Dari Damaskus, ia kembali lagi ke kota Konya (Turki) dan aktif mengajar serta memberikan fatwa.
Sejak itu, Konya menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia. Di kota ini pula murid-murid Syeikh Ibn ‘Arabi bermukim, di antaranya Syeikh Shadruddin Qunawi. Maulana Jalal Al-Din Rumi memimpin madrasah yang memiliki murid kurang lebih 4000 orang. Pada Jumadil Akhir 642 Hijriyyah berjumpa dengan seorang sufi dari Tabriz, sebuah daerah di wilayah Iran bernama Muhamamd Ibn ‘Ali Ibn Malik Daad yang kemudian di kenal dengan nama Syamsi Tabriz.
Semenjak perjumpaan itu, Maulana Jalal Al-Din Rumi berguru kepada Syamsi Tabriz karena ketinggian ilmunya dan sikap hidupnya yang sangat kental sebagai seorang sufi. Gurunya itulah kemudian banyak menunjukkan kepadanya berbagai kebenaran, bahkan ia mengatakan: “dia-lah yang mempertebal keyakinan dan keimananku”.
Sepanjang hidupnya Jalal Al-Din Rumi tercatat sebagai pribadi yang rajin, tekun, alim dan banyak beribadah. Dituturkan oleh salah seorang muridnya, bahwa Maulana kerap terlihat tidur tanpa sehelai hamparan, kalau rasa kantuknya menyerang ia bisa lelap dalam keadaan duduk. Jika waktu shalat hampir tiba, ia segera bergegas menghadap Kiblat, air mukanya menjadi berubah dan tampak khusyu’, kemudian ia tenggelam dalam shalatnya, layaknya sedang memadu kasih dengan Tuhan-nya. Maulana menggambarkan shalat yang khusyu’ bagaikan seorang yang tengah kasmaran dan hampir-hampir tidak ingat diri. Maulana Jalal Al-Din Rumi dikenal pula seorang yang zuhud, dermawan, dan bersahaja. Tiap kali ia menemukan kesulitan, ia mengatakan: “sekarang aku mencium aroma ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT”.
Dua buah karya besar Maulana Jalal Al-Din Rumi adalah Matsnawi: berupa kumpulan sajak, puisi-puisi cinta kepada Tuhan Sang Kekasih; dan Fihi ma Fihi (inilah yang sebenarnya). Jalal Al-Din Rumi wafat tanggal 5 Jumadil Akhir tahun 672 Hijriyyah.
Sajak-sajak dan karya-karyanya banyak diminati baik Muslim maupun Non-Muslim, bahkan di negara-negara Barat. Dengan membaca sajak-sajaknya banyak dari pembacanya yang semula picik beralih menjadi lapang dan siap menerima kebenaran. Dengan mempelajarinya, akal yang semula tumpul berubah dengan ketajaman analisis. Seorang yang memiliki persoalan ruwet, kemudian menjadi tenang.
Jalal Al-Din Rumi mengajak manusia ke kehidupan cinta seperti sajaknya yang berbunyi:
“Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis,
debu beralih emas,
keruh menjadi bening,
sakit menjadi sembuh,
penjara berubah telaga,
derita beralih nikmat,
dan kemarahan menjadi rahmat,
cinta mampu melunakkan besi,
menghancur leburkan baru karang,
membangkitkan yang mati,
dan membuat budak menjadi pemimpin”.
SEVEN ADVICE OF MEVLANA
1. In generosity and helping others be like a river
2. In compassion and grace be like sun
3. In concealing others faults be like night
4. In anger and fury be like dead
5. In modesty and humility be like earth
6. In tolerance be like a sea
7. Either exist as you are or be as you look

No comments:

Post a Comment